Kuok Sub-District

Tanah, Udara, Air Kelahiranku

Air Terjun Panisan

Ngalai, XIII Koto Kampar

Waduk PLTA Kota Panjang

Sumber Listrik, Mitigasi banjir, Perikanan, Pariwisata

Sunset Pangandaran

Mimpi untuk 'Aurora' Masih Akan Tetap Ada

Rabu, 07 Desember 2016

UK

Bermula Dari...

 

Undangan Mereka

 

Kertas tebal dengan ukuran 10 x 10 cm berwarna keemasan dengan foto pre-wedding elegan tergeletak begitu saja di atas meja kerjaku. Hiasan bunga dan pita kuning ikut mempercantik desgin undangan yang bisa kutaksir harganya sekitar 15 ribu per eksemplar. Aku tau, yang mengundang bukan orang biasa, jadi penampakan undangan sudah dapat dinilai apakah mempelai dari kelas menengah ke atas atau bukan. Aku sendiri tidak tau apakah akan dibaca atau tidak sampai ke dalam isi undangan itu. Toh, dari foto sudah terlihat pernikahan siapa, ditambah dengan melihat tulisan bagian depan mungkin sudah cukup, -tertulis- The Wedding Suci dan Petra, Kota Dahlia, 12 Juli 2016, untuk Aurora dan pasangan, -as always.

‘Hhhhhhh..........’, aku melenguh panjang.

Kenapa harus ada embel-embel “& pasangan” setelah nama seseorang yang jelas-jelas belum menikah? Apakah itu sejenis motivasi agar si penerima undangan segera menikah? Atau apakah itu cuma tradisi di kota kecilku yang kalau si penerima undangan belum berkeluarga tinggal dicantumkan saja ‘the partner’ yang keberadaannya masih belum tau rimbanya? Begitulah pemikiran sarkastik dan negative thinkingku melihat semua hal yang terjadi dalam hidup. Am I alone? -aku harap tidak semua pembaca-.

Tentu, bagi seorang yang belum pernah mengirimkan kabar pernikahan bukan hal yang begitu menggiurkan bagiku. Berbeda sekali pada saat masih kanak-kanak yang begitu girang mendapatkan undangan pernikahan walaupun sebenarnya ditujukan untuk ayah dan ibuku. Tertulis jelas untuk ‘Hasan dan keluarga’. Jelas kan? karena memang sudah berkeluarga dan itu sangat tepat menurutku.

Jika sudah mendapat undangan pernikahan di masa kecil itu, artinya, akhir pekan kita sekeluarga akan makan besar di pesta pernikahan orang lain kan? begitu menggelitik tapi ada kesenangan tersendiri kala itu. Kalian juga pasti pernah merasakannya. Wah ini, siapa yang mau ada pesta pernikahan? Asik… kita bisa pergi bersama-sama dengan outfit yang semarak atau bahkan seragaman, layaknya keluarga yang lain, seperti fashion show saja.

Lalu, momen yang ditunggu-tunggu adalah menikmati setiap hidangan yang disajikan layaknya pesta seribu satu malam itu. Jika si tuan rumah adalah orang yang cukup berada maka antusias kami akan semakin tinggi. Aku dengan ibuku akan sama-sama menebak, akan ada apa saja ya nanti hidangannya? Sate, soto, es buah, kue jala, paniagham[1], buah, atau ada es tebak? Seperti itulah tebak-tebakan antara aku dengan ibuku yang memang sangat suka sekali menyantap makanan, lebih tepatnya sering merasa lapar. Nah, sebagai triknya, kami yang akan berangkat jangan makan apapun dari rumah. Nanti saja, dipuas-puasin saat makan di acara pesta di rumah orang yang dianggap akan loyal di hari pernikahan anaknya. Namun, jika yang punya hajat adalah orang biasa saja, ya... semangat memenuhi undangannya akan biasa-biasa saja. Suatu tendensius yang tidak patut tentu saja.

Begitulah kira-kira ilustrasi motivasi orang-orang di kampungku jika ada yang menggelar acara pernikahan. Bukan salaman dahulu dengan mempelai pengantin dan keluarga tapi langsung ke berkeliling di seantero meja hidangan. Sedikit bar-bar bukan? Prinsipnya, nikah itu cuma sekali, mbok ya sekalian kita pol-polan kan? Royal sedikit lah. Andai bisa menggunakan emoticon di kisahku ini, pasti sudah sangat ramai sekali dengan kepala-kepala botak berwarna kuning.

Lupakan soal pesta dengan custom pada era 90-an tadi. Ini tentang undangan keemasan dari teman yang tak pernah kusangka, tertulis nama Suci dan Petra. Mereka teman kampusku dulu. Kenapa mereka menikah? Kenapa Petra akhirnya tidak bersama Inggrit? Bukankah dulu mereka pernah ada kisah dan pernah kucomblangin? Ternyata tidak berhasilkah? Ya Tuhan, apa kuasaku mengatakan seperti itu? Maafkan aku.

Hanya karena undangan pernikahan kedua temanku itu, sepintas ada muncul kenangan-kenangan masa laluku saat kuliah dulu, di Kota Lily. Sejenak terputar kembali kenangan dan perasaannya yang dulu pernah ada. Perasaan yang sama sekali terus kukubur secara perlahan sejak tujuh tahun terakhir. Tujuh tahun? Mengapa begitu sulit?



[1]paniagham; sejenis makanan tradisional yang terbuat dari tepung ketan dicampur dengan parutan kelapa

Kamis, 30 Juli 2015

Mitigasi Banjir Kampar

Dear uwang Kampar dan sekitarnya.
Barangkali kurang bijak jika menulis isu sensitif di media yg jadi ajang pamer* bagi sebagian orang, tapi kadang2 menjadi efektif utk beberapa persoalan. Baiklah, karena masih berstatus wong cilik yg belum memiliki wewenang menyampaikan secara langsung yg sedang saya pikirkan, tak apa jika ada yg kurang berkenan, tidak setuju, agak setuju bahkan tidak (y). Jika ada kemungkaran, sabda nabi, cegahlah dgn perbuatan, jika tidak dgn ucapan jika tidak dgn doa, yg terakhirlah selemah2nya iman.

Ok, yg jadi pemikiran termasuk kecemasan saya adalah penebangan hutan, pembakaran lahan yg tk pernah selesai di kawasan das kampar kanan, pointnya adalah waduk plta koto panjang. kenapa? kenapa? saya pun sbg anak kemarin pagi* (fajri) baru mengetahui andaikan belum ada waduk dan plta sprti skrg, wilayah kita teman2, bnjir sebanjir2nya, sangat parah. dari sumber yg saya baca rancangan waduk itu dbuat pada tahun kelahiran saya (hehe, klo ad yg tanya*).

Alhamdulillah ya walau mengorbankan harta penduduk di beberapa desa utk pembangunan waduk. namun skarang, sejak saya pulang pergi kuok-padang 5 tahun silam sekarang baru terpikirkan oleh saya yg masih menimba ilmu ttg mitigasi bencana alam dan adaptasi perubahan iklim di jurusan planologi, ttg dampak yg akan mungkin terjadi pada waktu yg akan datang (masyaAllah, bukan mendoakan).

Lantas, bagi para pemilik lahan yg sungguh saya tidak tahu sesiapa, apa tidak terpikir bagaimana kalau hujan deras datang, hutan sudah tidak ada utk menahan runoff??? apakah tidak gamang membayangkan bencana yg akan menerpa pada masa anak cucu mendatang??? seyogyanya kawasan hutan yg berada di sekitar waduk adalah kawasan lindung yg tidak boleh dirusak sedikitpun.

Memang, semua sudah diatur dalam undang2 peraturan lainnya, tapi bagaimana fakta di lapangan? entahlah, saya tidak mau menyinggung perkara itu, karena serasa lebih baik suatu masalah itu ditinjau dari hilirnya (bottom up, dari masyarakat).

Oraik, man teman yg tinggal d sekitar waduk dan sungai kampar, kenalilah lingkungan n pahamilah fenomena alam serta perilaku yg bisa merusak alam, supaya kita hidup berdampingan dg alam, krn alam tidak membutuhkan manusia, tapi manusia yg membuthkan alam. end

^_^ salam sejuk dan hijau dari sungai kampar

Sabtu, 14 Maret 2015

Waspada!

Apakah terpikir ibukota sebuah negara akan collapse seketika karena gempa besar dan gelombang tsunami yang dahsyat? bayangkan jika itu benar-benar terjadi, bagaimana sistem pemerintahan, perekonomian, komunikasi dan kegiatan vital lainnya terhenti untuk waktu yang tidak ditentukan akibat bencana yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ya... Kota Jakarta, bukan, bencana tidak hanya mengenal batas administrasi, bisa saja Tangerang dan daerah di sekitar Selat Sunda, yang menurut ahli geologi akan mengalami gempa hebat yang hampir sama dengan kejadian di Aceh 2004 silam.

Tulisan ini bukan mengada-ada tentang ancaman bencana tersebut, karena LIPI pun sudah mempublikasi tentang hasil penelitian yang telah dilakukan oleh profesor Dannny Hilman tentang potensi gempa tersebut. Wallahu'alam. Kita juga tidak bisa mengelakkan itu tidak akan terjadi, karena busur Sunda yang melengkung dari Sumatera hingga ke Selatan Pulau Jawa merupakan pemicu gerakan lempeng tektonik tersebut. Jadi apa yang bisa dilakukan? apa yang perlu diperhatikan?

Nah, mitigasi bencana merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan pencegahan, kesiapsiagaan, aksi tanggap darurat, dan tahap memperbaiki kembali atau yang dikenal dengan rekonstruksi dan rehabilitasi. Fase yang bisa dilakukan untuk ancaman bencana yang telah disebutkan di atas adalah pencegahan dan kesiapsiagaan. Pencegahan terhadap hazard dapat dilakukan dengan mendirikan dinding laut yang mampu menghambat terpaan gelombang seperti tsunami. Gempa, bencana yang sering ditakuti sebenarnya bukan masalah guncangan itu sendiri, tetapi kekuatan bangunan yang harus bertahan dari guncangan tersebut, dapat dibayangkan bahwa jika tidak ada bangunan maka gempa bukan apa-apa dan tak mesti ditakutkan, benar kan? Jadi, yang mesti dilakukan adalah penguatan bangunan dengan building code yang sudah diatur oleh pemerintah dan implementasi di daerah yang memang belum dilaksanakan secara ketat. Inilah yang perlu diperhatikan dalam pencegahan dan mitigasi bencana.

Terkait dengan kesiapsiagaan, baik itu dari masyarakat Kota Jakarta dan sekitarnya, apakah mereka sudah mengetahui ancaman itu? apakah mereka paham bagaimana cara menyelamatkan diri? harus kemana mereka berlindung atau evakuasi? setelah itu bagaiamana? pertanyaan ini hanya bisa dijawab jika sudah ada sosialisasi, pelatihan atau drill dari pemerintah untuk mengurangi dampak akibat bencana tersebut dan untuk warga kota, satu pertanyaan lagi, apakah mereka peduli jika hal itu dilakukan oleh pemerintah? apakah mereka akan ikut berpartisipasi dan peduli dengan keselamatan jiwanya sendiri? Silahkan temui jawabannya jika bencana sudah terjadi, karena begitulah negara kita, apabila sudah terjadi, barulah teringat, ooo... iya, kenapa dulu tidak terpikirkan dan dilaksanakan ya? kenapa tidak direncanakan dan dianggarkan untuk itu ya?

Ya... terserah, hanya waktu yang akan menjawab...

*mohon koreksi, terimaksih

Minggu, 08 Maret 2015

Perjalanan ke Cibiru, Sebuah Arti Perjalanan Hidup


Takut untuk melangkah keluar menuju sebuah tujuan? Ragu untuk beranjak ke dunia luar yang tidak kau kenal? Merasa ngeri jika kau berada di antara orang-orang yang belum tentu berniat tidak baik kepadamu?

Hei... tidak, jangan pernah pikirkan semua itu. Di luar sana, semuanya akan melayanimu seutuhnya jika kamu punya keberanian untuk mendatangi ruang mimpimu... tergantung keputusanmu, apakah bergerak mundur atau maju untuk menatap ke depan hingga kau temukan yang kau tuju... tak peduli bagaimana ancaman yang kaan kau temui di jalanan, yang terpenting adalah kekokohan hatimu mewujudkan keinginan terbesarmu. Percayalah, semuanya akan berakhir dengan keindahan yang tak pernah kau duga. Karena dunia ini, tidak sekejam seperti apa yang kau bayangkan. Cukup bermain indah di dalamnya dan temukan dirimu yang sebenarnya.

Pada awal perjalananmu, kamu tidak tahu di mana langkah kakimu akan kau pijakan. Bertanyalah! Kalaupun tidak kau temui orang yang tepat, tetap mencoba, hingga kau temukan orang yang tepat memberikan jawaban kepadamu, di situlah kamu akan melihat siapa yang benar-benar peduli denganmu. Seiring berjalannya waktu, sepertiga jalan sudah kau jalani, namun keraguan dan kesalahan selalu melengkapi perjalananmu, carilah, carilah sendiri jalanmu. gunakan semua kemampuanmu untuk dapat sampai ke tujuanmu. Bahkan hingga kau tersesat dan tak terpikir lagi bagaimana jalan untuk pulang dan yang kamu pikirkan adalah agar dapat sampai ke tempat tujuanmu.

Temui orang yang benar-benar tulus mendengar pertanyaan akan kesulitanmu dan itu sudah hampir mendekati tujuanmu.... sedikit lagi... ya sedikit lagi... dan akhirnya alamat yang kau tuju ternyata salah, dan tidak kau temukan yang kau yakini adalah tempat pemberhentianmu. Istirahatlah sejenak, pikirkan bagaimana ini bisa terjadi, ambil pelajaran yang telah dialami. Hingga tak kau temukan cara lagi, di situlah cara Tuhan memberimu pemikiran untuk meminta pertolongan kepada orang lain yang sedikit lagi akan mengantarkanmu ke tempat tujuanmu. Akhirnya kamu sampai, sampai pada akhir perjalananmu menemukan apa yang kamu cari. Tapi ingat, jangan lupa bersyukur san berterimakasih atas semua pertolongan yang orang-orang berikan kepadamu, petunjuk Allah yang senantiasa menuntunmu hingga kau bena-benar bahagia berada di tempat yang kau cita-citakan. Alhamdulillah...



*diadaptasi dari perjalanan dari Dago-Cipadung (Cibiru) meleewati Jalan Dipatiukur dengan Bus Damri, diberhentikan di Jalan A.Yani untuk menaiki angkot Cadas-Cibiru, sampai di Jalan Cipadung yang salah, naik Cibiru lagi, benhenti lagi untuk sampai ke tempat tujuan, tapi nihil, akhirnya minta jemputan dari orang yang dekat dari sanalah jalan terakhir hingga benar-benar sampai di kegiatan yang sama sekali di luar harapan, tapi semuanya ada hikmah dan dibalik proses itu tersimpan sebuah pengalaman dan arti hidup yang sesungguhnya. Terimakasih ya Allah, teguhkan hatiku untuk menjalankan semua ini. Aamiin... Aamiin yaa Rabbal 'Aalamiin....